Berikan Saja Uang itu Langsung Kepada Mereka

Mendekati titik akhir eseinya, Joseph Hanlon yang berbicara sebagai ilmuan kajian pembangunan dari negara maju, menembakkan sebuah pertanyaan provokatif:

“.. kita telah menciptakan sebuah ‘industri bantuan’ yang utuh, lengkap dengan berderet lembaga yang menetapkan prasyarat bagi perubahan perilaku, kementerian-kementerian pembangunan yang memilih negara-negara yang bersedia bertindak sesuai dengan apa yang kita pikir harus mereka lakukan, para pekerja lapangan berbiaya besar yang memberitahu petani apa yang mereka harus lakukan, dan seterusnya. Kita membuat sekolah-sekolah yang mengajarkan kajian pembangunan, dan menerbitkan jurnal seperti Development and Change. Tapi seberapa besar pembangunan yang telah dicapai industri itu?”

Esei itu terbit di jurnal Development and Change. Ketika saya menginjakkan kaki ke kampus yang menerbitkannya (Institute of Social Studies, Den Haag) dua tahun setelahnya, kehebohan esei itu belum surut. Di mesin pencari saya masih melihatnya di daftar esei yang paling banyak dibaca.

Hanlon mengajukan dua kasus program bantuan di Mozambik untuk menyokong argumennya.

Kasus pertama ialah program ‘demobilisasi’ tentara yang terlibat perang sipil di Mozambik. Program ini berlangsung 1994-1996. UNDP yang mengelola dana hibah membagikan cek kepada para mantan kombatan setelah dipulangkan ke kampung masing-masing. Dana itu dibagikan lewat cabang bank dan kantor pos setempat yang terdekat dari tempat tinggal hampir seratus ribu mantan serdadu.

Kasus kedua ialah batuan untuk korban banjir (terbesar dalam 150 tahun) di selatan Mozambik, yang terjadi tahun 2000. Ketika dana ini dibagikan kepada lebih seratus ribu keluarga di 730 desa yang terpapar banjir, mereka telah melewati masa tanggap darurat. Dana ini hanya dibagikan kepada perempuan kepala keluarga, dalam program sepanjang 94 hari. Menurut USAID yang mengelola dana ini, perempuan akan memastikan penggunaan uang hanya untuk kebutuhan terpenting keluarga.

Dua program ini, menurut Hanlon, menunjukkan bagaimana bantuan tunai bisa langsung dibagikan kepada warga desa berpendidikan rendah atau bahkan buta aksara. Program bantuan banjir–kasus ke dua–para penerima cuma perlu menempel cap jempol. Ya, mereka bisa mencairkan cek.

Para penerima bantuan itu kemudian menggunakan dana mereka dengan baik untuk memulihkan ekonomi keluarga. Di kasus pertama, melalui sejumlah survai, banyak di antara penerima bilang mereka membelanjakan uang itu untuk kebutuhan dasar dan sekolah anak. Uang itu bisa mengangkat beban mereka untuk memulai usaha tani keluarga, bahkan menyokong pemulihan kehidupan sosial, khususnya di wilayah perdesaan yang porak-poranda di hajar perang.

Sementara survai yang menyusul bantuan di kasus ke dua menyebutkan bahwa sebagian besar dana itu digunakan untuk kebutuhan dasar dan investasi usaha tani keluarga seperti bibit, ternak, alat tani, dan bahan bangunan. Sebagian lagi digunakan untuk membayar utang atau memperbaiki perkakas. Istimewanya, sekitar 87 persen dari dana itu dibelanjakan di wilayah setempat sehingga tidak menyebabkan pelarian modal keluar (capital outflow) wilayah pedesaan tersebut, dan merangsang perkembangan ekonomi lokal.

Hanlon juga menyebutkan program transfer langsung semacam ini bisa mengurangi ongkos administratif. Pada kasus pertama, biaya administrasi dari total dana hibah tersebut hanya sekitar lima persen, pada kasus ke dua sepuluh persen. Keduanya jauh lebih rendah ketimbang program bantuan konvensional.

Hanlon mengakui bahwa persoalan terbesar dari program semacam ini, bila hendak dibuat dalam skala lebih luas, ialah bagaimana mengidentifikasi target penerima manfaat dengan biaya murah. Ini masalah klasik program yang bersifat ‘targeting’ ketimbang yang ‘universal’, dan yang terakhir inilah coba ia advokasikan. Untuk itu ia memberi contoh pemberian ‘dana pensiun’ universal di Afrika Selatan, terutama bagi penduduk manula kulit hitam yang telah melewati hidup keras selama masa Apartheid.

Dengan contoh ini, Hanlon menepis anggapan bahwa ‘universal basic income grant’ (hibah pendapatan dasar universal) tidak mungkin dilakukan.

Hanlon juga dengan tegas membantah anggapan umum bahwa kaum miskin menjadi miskin karena bodoh dan malas. Bagi dia, orang miskin menjadi miskin hanya karena kurangnya uang yang bisa mereka kelola. Bila diberi uang, seperti dicontohkan di atas, mereka bisa menggunakan sebaik mungkin, bahkan dapat merangsang ekonomi daerah.

Jadi bagi Hanlon, ketimbang menjalankan ‘industri bantuan’ berbiaya super-mahal, yang membuat kaya elite lokal, para manajer dan konsultan bantuan, kenapa tidak langsung saja berikan uang itu kepada kaum miskin? Joseph Hanlon pun menjuduli eseinya “Is it possible to just give the money to the poor?

Bagaimana menurut Anda?

 

Esei Joseph Hanlon bisa di baca di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s