Ketika Musik Menjelma Mesin Waktu yang Membawaku Menemui Seorang Ibu

Sembilan belas sembilan enam. Saya melongo di depan layar Polytron 29 inci. Hentakan drum berkejaran dengan lenguhan piano, gitar elektrik, dan tepukan tangan. Semua mengiringi suara manja Nina Persson dalam balutan dress ala Marylin Monroe, dengan rambut pendek berwarna emas. Poninya terselip ke telinga kanan. Bersama jas, tuxedo, dasi, tarian, rambut klimis, semua mengingatkan pada kurun ketika Gay Talese menulis tentang Frank Sinatra yang sedang terserang selesma.

I will never know/cos’ you will never show…

Itu video klip Carnival, The Cardigans. Sampai beberapa tahun setelah 1996, video klip itu masih diputar, terutama di MTV yang waktu itu disiarkan Anteve. Lagu itu sendiri dirilis 1995. Waktu itu saya belum tahu jenis video klip apa itu, tapi saya sangat suka. Sekira dua dasawarsa kemudian saya baru tahu kosakata vintage atau retro(spective)–saya bukan pengamat fashion atau musik.

Bagi saya, musik bisa menjadi mesin waktu, bukan hanya untuk pergi ke satu titik di masa lalu, tetapi di titik itu sendiri terbentang sekian banyak jembatan yang bisa membawa saya ke masa-masa yang lebih awal, bahkan ke rangkaian persitiwa yang sama sekali tak berhubungan dengan musik itu sendiri.

Perjalanan seperti itu terjadi lagi ketika saya menonton kembali video klip Carnival, setelah berselancar tak tentu arah di dunia maya, mencari-cari lagu yang saya senangi pada kurun 1990-an. Easy Like Sunday Morning versi Faith No More, Ordinary World oleh Duran-Duran, …. Carnival.

Mungkin ini video klip pertama bergaya vintage yang saya tonton. Mungkin saya pernah lihat video serupa sebelumnya, tapi tak ingat–ini hari minggu. Mulai dari aransemen, mode pakaian dan rambut, alat musik, adegan, semua berasal dari masa sekira 30 tahun sebelum The Cardigan tampil di panggung.

Keseluruhan bangunan masa lalu itu melempar saya ke kurun berbeda pada masa lalu.

Carnival membawa saya berkelana pada kurun itu–tahun ketika pertama kali saya menontonnya. Lebih tepatnya, beberapa bulan sebelumnya. Carnival melemparkan saya ke satu desa di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara.

Itu pertama kali saya bekerja di desa.

Hari-hari pertama tinggal di sana, kami mendatangi rumah-rumah warga, dari ujung terluar desa. Di rumah pertama saya langsung berjumpa sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kami mendatangi sebuah rumah kayu mungil. Seluruh kayunya tampak tua dan melapuk, kecuali tempelan di beberapa bagian dindingnya.

Kami menemui seorang ibu hamil yang baru saja tiba dari mengangkat air entah di mana. Dengan jari-jari kurus dan lelah ia menunjuk lima anaknya tengah bermain di pekarangan.

“Anak saya ada enam,” ucapnya. “Anak pertama sedang di sekolah, kelas 1 SD.”

Ia sudah tidak berusaha merapihkan rambutnya yang kusut ketika bertutur tetang keengganannya datang ke Posyandu, karena “malu.” Ia malu karena merasa tidak menjalankan apa yang sering diceramahkan di Posyandu, anak cukup dua saja.

Tetapi, di sepanjang perbincangan, saya menangkap kesan, yang mungkin sengaja ia samarkan, bahwa ia menghindari Posyandu karena fakta sederhana: ia miskin dan karena itu tinggal terpisah dari pusat perkampungan dan aktivitas sosialnya, termasuk Posyandu.

Ia mengirim sinyal tentang jarak kelas sosial, namun saat itu saya belum sepenuhnya sadar.

I will never know/ cos’ you will never show….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s