Mendengar Para Pengorganisir Rakyat Bicara

Saya tertegun menyimak cerita-cerita para pegiat pengorganisasian rakyat yang bergiliran menyampaikan cerita mereka pada 11-12 April kemarin di Taman Belajar Ininnawa.

Mereka bekerja di tengah warga terpinggirkan, bertahun-tahun. Mereka merasakan peminggiran itu, sejak awal—sejak mereka mewakafkan diri bekerja dan belajar bersama warga. Semua masalah dan kesulitan yang menjadi turunan dari situasi itu mereka ubah menjadi sekadar tantangan, sesuatu yang akan mereka hadapi. Tantangan-tangangan itulah yang justru menggerakkan mereka.

Mereka pun percaya akan melewatinya. Mereka punya tujuan yang jelas, nyaris tak terbelokkan.

Dari mereka saya kembali mendengar, salah satu syarat paling penting pengorganisasian rakyat ialah waktunya tak bisa singkat. Seorang muda, pengorganisir dari Koperasi Sahabat Alam (Kosalam) berkata, “kami masih baru” ketika mereka sudah bekerja dua tahun di satu tempat. Sebagian sudah bekerja belasan tahun di tempat yang sama, sebagaimana para pegiat Komite Perjuangan Rakyat Miskin Makassar. Peserta lain, Armin Salassa menceritakan, “hanya untuk menyusun cita-cita, atau visi bersama,” sebuah masyarakat yang ia temani butuh waktu enam bulan.

Mereka pun bilang, pengorganisasian perlu sumber ekonomi mandiri. Sebagian besar peserta mengatakan, atau menyiratkan, bahwa bantuan dari pihak luar warga hanya bisa difungsikan sebagai pemantik, dan sebaiknya tak diharapkan untuk terus membantu warga yang mengorganisir diri. Warga yang terorganisir, juga individu atau lembaga yang melakukan kerja pengorganisasian, akan sulit bertahan tanpa sumber ekonomi mandiri.

Kita tahu, kerja pengorganisasian rakyat selalu makan waktu lama, dan sifat kerjanya yang terbuka bagi banyak kemungkinan menyulitkan lembaga dana manapun untuk mendanainya. Apa boleh buat, daya tahan kerja pengorganisasian harus bergantung pada sumber ekonomi mandiri.

Mereka juga bilang bahwa sebuah kerja pengorganisasian butuh banyak metode dan kemampuan teknis yang relevan bagi warga tempat mereka bekerja. Bayangkan bila anda ingin membantu warga desa mengorganisasikan diri, dan anda tak tahu satu pun hal tentang bertani, anda akan kesulitan sampai anda bisa belajar dan punya satu atau beberapa keterampilan teknis itu. Anda tak akan punya peluang berdiskusi panjang dan berulang-ulang bersama warga tanpa keterampilan dan pengetahuan teknis itu.

Dan apabila anda tak bisa berlama-lama dengan mereka, bagaimana anda bisa mengajak mereka berkumpul, duduk berlama-lama untuk berdiskusi tentang isu bersama mereka, tentang bagaimana mereka akan menghadapinya, lalu bekerja bersama mereka untuk mewujudkan rencana-rencana bersama mereka. Anda bahkan tak bisa memberi saran-saran yang mereka perlukan.

(Karena itulah, pengorganisasian rakyat juga adalah proses belajar jangka panjang.)

Masalahnya, mendengar cerita mereka, saya membayangkan betapa sebagian besar warga yang mereka hadapi sudah terlanjur meyakini bahwa urusan penghidupan adalah soal pribadi masing-masing orang—dan itu bukan salah mereka. Keadaan telah memaksa mereka berpikir demikian. Bukankah sebagian dari kita juga berpikir demikian? Kerja bersama, terutama dalam lapangan ekonomi dan politik, sulit dipercaya untuk bisa menjamin keberlangsungan penghidupan.

Mekanisme pasar telah mengajari mereka, bila keuntungan nyata sudah di depan mata, ambillah. Bila kerja bersama tidak menguntungkan secara finansial dalam waktu singkat, tinggalkan.

Bagi mereka yang sudah lama dipinggirkan, peluang sekecil apa pun harus digunakan, sebab itu tidak akan datang dua kali—sebagaimana pengalaman hidup mengajari mereka. Bagi mereka yang melarat, uang di depan mata memang lebih berguna daripada tanah garapan yang masih kosong. Belum lagi, keadaan semacam ini tak pernah lepas dari intaian para penumpang gelap yang siap meraup keuntungan dari warga yang sudah kepayahan.

Bekerja bersama dalam kerja jangka panjang untuk memastikan penghidupan yang mencukupi dan lebih berkelanjutan adalah sebuah kemewahan. Jumlah kelompok warga yang mengalami masalah ini sangat banyak, sehingga seorang peserta mengatakan, “kami tak pernah sempat tinggal mengorganisir di satu tempat karena kami harus berpindah-pindah menangani banyak sekali kasus yang merugikan rakyat.”

Karena itulah sistem pendukung dibutuhkan. Meskipun para pengorganisir adalah orang-orang tahan banting dan berkomitmen tinggi, mereka bisa saja mengalami kehabisan logistik atau dihinggapi rasa frustrasi karena deraan kegagalan atau kebuntuan. Saat-saat seperti itu mereka butuh orang atau lembaga lain untuk menopang mereka. Sebagian peserta simposium punya sistem semacam ini, sebagian lagi tidak—atau belum…..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s