Mengapa Kritik Dianggap Penyakit

Salah satu kegagalan terbesar sistem pendidikan Indonesia yang menjadi perhatian saya ialah masih bertahannya tabiat anti-kritik.

Jika sistem pendidikan kita bekerja dengan baik, kritik akan dianggap sebagai bagian absah dalam kehidupan bermasyarakat. Kritik akan dipandang sebagai pertanda masyarakat yang sehat—sebab masih ada yang berniat memperbaiki apa yang dilihat keliru.

Apabila sistem pendidikan kita merupakan domain ilmiah dan dialogis, orang-orang yang melontarkan kritik akan dilayani dengan diskusi terbuka untuk menemukan kesimpulan terbaik setelah menimbang sekian banyak pendapat dan bukti, bukan disambut dengan mekanisme pertahanan diri (“Pokoknya…”), intimidasi, apalagi aneka macam tindak kekerasan atau kriminalisasi, juga lebih banyak aturan untuk membungkam kritik.

Dalam diskusi-diskusi atau penyampaian pendapat di ruang publik, misalnya, saya seringkali melihat dua pihak seolah ‘berdebat’, dengan keduanya tetap dalam pendapat masing-masing di sepanjang ‘debat’ tanpa sedikit pun pengakuan akan aspek-aspek yang lemah dan kuat dari pendapat masing-masing. Ini bukan debat.

Tidak jarang, saling lempar pendapat itu berakhir dengan saling lempar makian, ejekan, sindiran–secara langsung maupun berupa sindiran. Masing-masing pihak seolah tak belajar apa-apa dari pendapat ‘lawan diskusi’ mereka. Saling lempar pendapat itu tampak lebih disetir oleh keyakinan atau perasaan, daripada konsistensi pendapat dengan fakta atau data. Inilah tabiat anti-kritik.

Sistem pendidikan kita, dengan satu dan lain cara, kurang menanamkan kepada kita sikap untuk mencari kebenaran ilmiah dengan penelitian, sesederhana apapun, mengenai fenomena yang kita lihat. Semua orang tahu, di sekolah—dengan sedikit pengecualian—kita hanya mendapatkan hafalan text-book berisi kesimpulan-kesimpulan dan resep-resep yang dikesankan sebagai sesuatu tak terbantahkan.

Maka wajar bila anda membuka diskusi di ruang publik, mengajukan sebuah masalah, paling sering anda akan segera disambut resep-resep baku yang seringkali klise. Bahkan sebelum mendiskusikan akar masalahnya, solusi-solusi yang entah dicomot dari mana sudah berdatangan—dengan penuh keyakinan dari orang-orang yang menyampaikannya.

Kecenderungan jump into conclusion ini sangat, sangat lazim.

Di balik tabiat ini bersemayam kegagalan sistem pendidikan kita mengenalkan cara mengelola konflik. Konflik masih lebih banyak dilihat sebagai ‘penyakit’ yang harus dihilangkan. Masyarakat yang harmonis tanpa konflik, sebuah nirwana yang tak masuk akal, dilihat sebagai dunia ideal yang harus dituju atau dipertahankan.

Padahal perbedaan pikiran dan kepentingan, dalam pelbagai tingkatan, merupakan kenyataan abadi yang tak mungkin lenyap di muka bumi. Selama masih ada lebih dari satu manusia, konflik dalam bentuk laten maupun terbuka akan selalu ada. Satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan manusia ialah mengelolanya, agar hidup bisa berjalan damai. Dengan apa orang mengelola konflik? Lewat kritik dan debat yang sehat.

Tapi di sekolah, semua jawaban sudah tersedia, anda tak perlu berpikir dan diskusi untuk mencari kemungkinan lain, anda hanya perlu menghafalkannya. Padahal, diskusi dan berpikir adalah pondasi kritik.

Model pendidikan seperti ini sangat mungkin menghasilkan lebih banyak orang yang sulit hidup tanpa kepastian abadi dan keseragaman nyaris absolut, tanpa jawaban tunggal yang sudah disediakan. Orang-orang pun menjadi tak terbiasa hidup bersama kesimpulan-kesimpulan sementara dengan sekian catatan kaki yang mengakui hadirnya keterbatasan ruang, kesementaraan waktu, dan ketaklengkapan informasi dari semua kesimpulan itu—yang merupakan produk manusia.

Segala keterbatasan itulah (juga akibat tindakan manusia) yang membentuk kelompok sosial berbeda, yang hidup, bertindak, berpikir dengan cara berbeda. Itulah kenapa beda pendapat selalu ada.

Hidup semacam itu dianggap terlalu berat, bahkan keliru.

Dalam keadaan semacam inilah banyak orang melihat para kritikus sebagai penebar bibit konflik, pemecah belah, pengganggu kedamaian: penebar bibit penyakit. Kritik seringkali dilihat sebagai ‘serangan’ terhadap individu atau kelompok tertentu, bukan sebagai argumentasi atas titik lemah dari tindakan atau gagasan individu atau kelompok–untuk perbaikan.

Kritik bahkan dianggap selalu didasari ‘niat jahat’.Kritik dilihat sebagai gejala penyakit, bukan gejala masyarakat yang sehat. Kritik tampak sebagai usaha merusak, bukan memperbaiki.

Di ladang seperti inilah orang-orang yang ingin mengambil untung bisa dengan mudah menanam antipati dan menuai permusuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s