Mereka Melatih Kami Berpikir Ilmiah

Tamalanrea, Awal 1999. Hari itu kami menyampaikan kritik terhadap buruknya proses perkuliahan di jurusan Sastra Inggris Universitas Hasanuddin.

Kami, delapan mahasiswa, telah melewatkan tiga bulan penelitian untuk menyajikan kritik itu. Di hadapan kami sudah duduk ketua jurusan bersama wakilnya, juga sebagian besar dosen jurusan kami. Hadir pula pembantu dekan satu, dan kawan-kawan mahasiswa. Bila tak keliru mengingat, ada empat puluhan orang di dalam ruangan itu.

Perjalanan panjang menuju hari itu menunjukkan bagaimana dosen dan jurusan benar-benar membimbing kami untuk berpikir ilmiah, meskipun itu bisa membentur kekuasaan mereka.

Beberapa bulan sebelum penelitian itu, serangkaian diskusi berlangsung di antara sejumlah mahasiswa jurusan. Ketika itu terdengar sangat banyak keluhan mengenai proses belajar mengajar di jurusan. Diskusi itu kemudian berkembang menjadi rencana untuk melakukan penelitian menyeluruh terhadap keluhan tersebut.

Kami memulai dengan mengadakan dua kali FGD untuk mengidentifikasi dan memetakan persoalan yanng berseliweran, lalu menentukan fokus penelitian–hasilnya mungkin tidak terlalu fokus bila kami membacanya hari ini. Setelah itu kami menyusun semacam TOR atau proposal penelitian. Waktu itu kebetulan sebagian dari kami sedang mengikuti matakuliah Metodologi Penelitian Budaya, jadi kami sudah tahu sedikit tentang proposal penelitian.

Setelah dokumen itu rampung, kami merasa perlu memberi kabar kepada ketua jurusan (dijabat Bapak R.S. M. Assagaf) tentang rencana penelitian tersebut. Kami membawa serta naskah proposal untuk dia baca. Dokumen itu sendiri sudah dimulai dengan ‘Latar Belakang’ yang pedas, berisi keluhan-keluhan yang kami anggap gejala yang buruk–yang menunjukkan kinerja jurusan yang buruk.

Apa yang dia lakukan? Dia memeriksanya seperti seseorang memeriksa sebuah proposal penelitian. Sebagaimana layaknya seorang akademisi.

Hal serupa kami lakukan dengan Pembantu Dekan I yang mengurusi bidang akademik (alm. Ibu Sumarwati Poli). Reaksinya? Sama saja. Dia mencoret, mengoreksi, memberi usulan di sana-sini, seperti memeriksa proposal penelitian. Tak mengubah sedikit pun arah dan substansi penelitian itu sendiri.

Setelah itu kami terbentur pada bagaimana cara mengembangkan proposal itu menjadi instrumen penelitian yang lebih terperinci. Kami kuliah di Fak. Sastra, dan penelitian kami lebih mengandalkan metode penelitian dari ilmu-ilmu sosial. Ke mana kami pergi? Ke dosen Metodologi Penelitian Budaya, waktu itu diampu Horst Liebner.

Setelah mendengar apa yang hendak kami lakukan, dia menyarankan dua buku: Metode Penelitian Survai (Masri Singarimbun) dan beberapa bab dalam Metode-Metode Penelitian Masyarakat (disunting Koentjaraningrat). Dia pun setuju bahwa laporan penelitian kolektif kami kelak bisa dihitung sebagai tugas akhir mata kuliah (secara individual setiap mahasiswa memang harus menyerahkan laporan penelitian sebagai tugas akhir matakuliah itu).

Catatannya cuma satu: laporan harus diserahkan sesuai jadwal, sama dengan mahasiswa lain.

Maka bekerjalah kami selama tiga bulan. Selama proses ini berlangsung tak ada sedikit pun intimidasi dalam bentuk sehalus apa pun. Ketika penelitian itu rampung, atas nama Perhimpunan Mahasiswa Sastra Inggris, Perisai, kami membuat undangan dan semua datang, pejabat fakultas dan jurusan, dosen-dosen dan mahasiswa.

Jalan lempang itulah yang kami lewati sebelum berdiri di hadapan para undangan seminar yang menyajikan hasil penelitian mahasiswa tentang buruknya proses perkuliahan di jurusan. Acara itu berlangsung di aula jurusan.

Setelah menyajikan temuan dan kesimpulan, kami diberondong pertanyaan, baik oleh dosen maupun mahasiswa. Pertanyaan khas seminar. Salah satu pertanyaan yang saya masih ingat, dari seorang dosen, ialah bagaimana kami melakukan sampling untuk mendapatkan data survai. Seorang kawan menjelaskan dengan cermat bahwa kami memilih stratified random sampling, dengan menggunakan angkatan mahasiswa sebagai stratifikasinya, kemudian kami mengacak nomor induk mahasiswa di tiap angkatan untuk mendapatkan sampel. Dia pun menjelaskan mengapa kami menggunakan metode itu, dan berapa besaran margin of error-nya.

Sepanjang seminar itu tak ada intimidasi apalagi kata-kata kasar. Padahal sebagian besar makalah kami memerinci kelemahan-kelemahan kinerja jurusan dalam hal perkuliahan. Termasuk metode mengajar, pembimbingan skripsi, sampai kehadiran di kelas, dan lainnya.

Setelah penelitian itu disajikan terjadi beberapa perkembangan menarik di jurusan. Tak ada lagi mahasiswa yang harus bersedih karena tak dibiarkan menulis skripsi dalam Bahasa Inggris. Sekali seminggu berlangsung coaching clinic mengajar di antara dosen-dosen. Secara acak, seorang dosen senior datang melihat bagaimana dosen muda mengajar di kelas.

Itulah UNHAS yang kami kenal. Itulah UNHAS yang saya kenal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s