Pendapatnya Umum, Kepentingannya Pribadi

Ada pemandangan menarik akhir-akhir ini di media sosial.

Saya melihat orang-orang mulai terbiasa mencomot argumen yang sudah umum (common sense), seolah sedang mengusung kepentingan umum (public interest), tetapi  lebih tampak sebagai usaha mengangkat citra pribadi.

Orang-orang ini bisa memasang potret atau menyalin tulisan orang lain lalu dibubuhi komentar, entah untuk mendukung atau membantah sesuatu, yang juga adalah argumen lazim yang entah dipungut dari mana pula.

Namun, sadar atau tidak, mereka lebih tampak ingin menunjukkan diri, bahwa mereka paling benar, (merasa) menang dalam debat, atau paling tidak merasa ‘hadir’ atau menunjukkan ‘suara’ agar tak disebut apatis atau apolitis. Maka bertebaranlah salinan, saduran, atau jiplakan yang seolah merupakan pendapat pribadi.

Mungkin sebagian dari mereka tak sadar bahwa tindakan publik seperti itu lebih tampak sebagai upaya meluluskan kepentingan pribadi (merasa benar, menang, ‘ada’, dsb.), daripada menambah penjelasan atau data atau argumen baru ke hadapan publik tentang isu yang sedang mereka bicarakan.

Sebaliknya, yang lebih jarang saya lihat, orang-orang yang mengajukan pendapat pribadi untuk menyorot atau mengangkat kepentingan umum. Mungkin memang lebih sulit untuk mengumpul bahan, mengolahnya, menimbang sebanyak mungkin pendapat dan data, lalu memunculkannya sebagai rumusan pendapat pribadi tentang urusan umum (publik).

Saya tak ingin mengatakan bahwa tindakan yang terakhir ini selalu lebih baik daripada yang sebelumnya. Mendukung atau membantah sesuatu adalah hak semua orang. Tidak adil rasanya menghakimi orang-orang yang tak punya waktu luang untuk melakukan cek dan ricek, lalu ngopi berlama-lama untuk merenung atau berdiskusi demi mendalami suatu isu.

Saya cuma khawatir membayangkan efeknya, bila kecenderungan ini berlanjut, terutama efek ini: bayangkan betapa susutnya informasi atau analisis baru tentang sesuatu yang bisa ditemui publik di media sosial. Sebab jiplakan dari jiplakan dari jiplakan yang entah dijiplak dari mana, tidak menambahkan apa-apa. Dan orang-orang mungkin akan membawa pendapat itu sebagai kebenaran sampai lama atau bahkan selama hidup mereka.

Dengan pengetahuan yang tipis tentang banyak persoalan, bagaimana menghadapi watak dan intensitas persoalan yang justru kian rumit?

Saya belum tahu kenapa ini terjadi. Apakah karena tekanan untuk paling cepat ‘hadir’ di medsos dan bicara tentang semua soal? Atau karena kebiasaan menjiplak, meniru, menghapal, sudah begitu parahnya? Atau karena kemalasan berpikir dan semakin sibuknya orang dengan banyak macam kegiatan nyata dan maya? Atau gabungan semuanya? Tak tahulah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s