Ini Soal Mendengar Orang Muda

Bila anda mengenal seorang muda, atau bila anda sedang berada di dekat satu dari mereka, lelaki atau perempuan, cobalah sesekali duduk berlama-lama dengannya, hanya untuk mendengarkan ia bicara. Siapa tahu, ia mau bercerita.

Setidaknya di tempat saya meneliti baru-baru ini, di Sulawesi Selatan, posisi orang muda ternyata belum banyak berubah. Mereka masih dianggap sebagai ‘anak’, dan karena itu mereka dianggap belum bisa diajak membuat keputusan-keputusan publik, meskipun keputusan itu juga berdampak pada kehidupan mereka. Suara mereka masih belum banyak didengar.

Jika saya mengabaikan pendapat segelintir orang tua yang bicara dalam penelitian itu, posisi orang muda di mata orang dewasa masih terbagi ke dalam dua kelompok, (1) ‘anak nakal’, yaitu orang muda biang onar; (2) ‘anak baik-baik’, yaitu anak yang patuh, tunduk, dan gampang ‘disuruh-suruh’.

Pemilahan hitam putih seperti ini sama dengan yang berlaku ketika saya masih remaja puluhan tahun lalu—btw, masa itu Indonesia masih di bawah kediktatoran Orde Baru. Orang-orang dewasa pun masih gemar membina, mengarahkan, menceramahi, menasihati, atau membimbing orang-orang muda. Sangat sedikit dari mereka yang datang kepada orang muda hanya untuk mendengar, yup, mendengar saja.

Orang-orang dewasa masih ramai bicara tentang “pengaruh lingkungan” yang menciptakan orang-orang muda pembuat onar. Mereka masih mengeluh bahwa “anak muda sekarang sudah susah dinasihati, sudah merasa lebih pintar dari kita.” Persis sama dengan keluhan orang-orang dewasa pada masa saya. Paling-paling tambahannya cuma ini, “apalagi sekarang ada internet.”

Mendengar mereka, rasanya seperti sedang dijebloskan ke mesin waktu dan dilempar pulang ke masa saya masih remaja.

Mengapa orang-orang dewasa yang awam internet ini tak bisa mengakui bahwa, yes, kids jaman now punya fasilitas lebih maju untuk tahu lebih banyak informasi. Dan bahwa mereka memang lebih lincah berselancar di internet daripada orangtua mereka yang lahir dan bersekolah sampai tamat SMA seluruhnya dalam masa Orba—yang hanya punya TVRI, lagu-lagu cengeng di radio, dan interkom. Kalau mereka berpikir begitu, ada kemungkinan sangat besar mereka akan mengakui bahwa orang-orang muda masa sekarang lebih khatam macam-macam persoalan publik dibandingkan om dan tante mereka.

Tapi kuasa orang dewasa harus tetap tegak.

Kalau sudah begitu, silakan anda bayangkan sendiri kondisi ini. Apabila orang-orang dewasa di sekolah, rumah, dan lingkungan tempat tinggal orang muda, semuanya bernafsu untuk membina dan mengarahkan, menceramahi dan menasehati, plus membimbing mereka, kira-kira apa yang terjadi pada orang muda?

Mungkin anda bisa bayangkan betapa jemunya mereka terhadap orang-orang dewasa yang selalu bicara tentang masa depan orang muda. Bayangkan bahwa mereka harus menelan semua itu ketika mereka saat ini—bukan di masa depan—tengah menghadapi macam-macam persoalan khas orang muda.

Kalau dipikir-pikir, mungkin sebagian dari orang muda sedang dipaksa menelan semua ketidaknyamanan pada masa kini untuk bisa menikmati apa yang dibayangkan orang dewasa sebagai kehidupan lebih baik di masa datang. Mereka diminta menerima penderitaan untuk cita-cita yang dibuat orang dewasa bagi mereka.

Lantas apakah berbagai macam ketidaknyamanan yang orang muda alami pada masa sekarang tidak diciptakan oleh orang dewasa juga? Apakah ketidaknyamanan yang harus ditelan oleh orang muda itu bukan untuk kenyamanan orang dewasa?

Bayangkan betapa banyak aspirasi, isu, atau persoalan khas orang muda yang mungkin tak sempat mereka rumuskan sendiri dengan baik, atau bisa mereka identifikasi dengan jelas, tapi tidak terungkap di ruang publik yang dikuasai oleh orang dewasa. Itu terjadi sebagian karena orang dewasa jarang datang kepada mereka untuk mendengar. Hanya mendengar.

Padahal, jika orang-orang muda sering membicarakan isu khas generasi mereka, paling tidak mereka punya kesempatan merumuskan persoalan mereka, merunut asal-usul persoalan yang mereka hadapi, menimbang-nimbang semua faktor yang mungkin memberi andil, lalu memberinya nama—menurut versi mereka—untuk bisa mengungkapnya ke ruang publik.

Tapi mereka lebih sering dibisukan. Mereka lebih sering dipaksa mendengar daripada didengarkan.

Sebagai orang dewasa, tidak jarang saya menyaksikan kebisuan mereka—kebisuan orang muda ketika berhadapan dengan orang dewasa. Mungkin mereka tahu apa yang mereka rasakan atau pikirkan, tapi sepertinya selalu ada hambatan mental ketika mereka harus mengungkapkannya secara lengkap, apalagi di hadapan orang dewasa.

Ketika saya bertanya kepada orang-orang dewasa: “apa persoalan paling mendesak di kalangan orang muda sekarang ini?” Jawaban yang paling sering saya dengar ialah: tawuran, narkoba, miras, dan semacamnya.

Dalam hati saya bertanya-tanya: apakah semua itu benar-benar persoalannya orang muda? Atau itu cuma bagian dari ekspresi khas mereka ketika sadar bahwa tak ada yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan persoalan nyata mereka? Ketika mereka lihat bahwa mungkin itulah satu-satunya cara agar mereka bisa dihargai, didengarkan?

Saya teringat satu percakapan kecil sepuluh tahun lalu, ketika saya mewawancarai seorang kawan bercerita tentang satu program yang ia ikuti masa ketika masih SMA. Ia bilang begini:

“Saya capek dicap anak nakal. Karena itulah saya menyembunyikan diri saya yang sebenarnya untuk menyenangkan orang lain. Lama kelamaan diri saya yang sebenarnya tenggelam dan terlupakan. Tapi ketika saya mengikuti program, saya kaget karena di sana orang-orang benar-benar mendengarkan saya, bahkan fasilitator menulis di buku catatannya apa yang saya katakan. Orang lain betul-betul mendengarkan saya. Saya tiba-tiba sadar, “I am someone.”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s