Demokrasi yang Bermula dari Sebuah Warisan

Seorang kawan turun dari mobil di depan rumah kontrakan kami. Ia membawa turun tumpukan buku baru yang sudah berhari-hari kami tunggu. Itu terbitan pertama kami, Penerbit Ininnawa. Buku itu berjudul Warisan Arung Palakka, hasil penelitian panjang seorang sejarawan AS, Leonard Andaya. Di lembar kolofon tertera titimangsa terbitan pertama, April 2004.

Kami menerbitkan buku terjemahan itu sebagai yang pertama dengan itikad jelas, kami hendak mewujudkan demokrasi pengetahuan. Pada masa itu, empat belas tahun lalu, kajian-kajian ilmiah karya ilmuan luar negeri tentang Sulawesi Selatan masih barang langka. Buku-buku semacam itu hanya ada di rak-rak milik sangat sedikit ilmuan. Kami bahkan tidak menemukannya di perpustakaan fakultas, universitas, apalagi di perpustakaan kota.

Para sarjana baru yang masih setengah menganggur, juga para mahasiswa, harus sering bertandang ke rumah para dosen untuk bisa menemukannya. Bila berhasil, dan atas kebaikan hati pemiliknya boleh kami bawa untuk digandakan, sebagian orang belum tentu bisa membaca versi aslinya yang berbahasa Inggris. Jika pun kami tahu cara membelinya—dan ini tidak mudah pada masa itu, harganya pasti selangit untuk ukuran para pengangguran tak kentara yang suka membaca buku.

Saya menemukan buku karya Leonard Andaya itu di rumah salah satu ilmuan kenaman Sulawesi Selatan, Nurhayati Rahman. Beliau mengizinkan kami menggandakan buku koleksinya itu, dengan catatan harus segera dikembalikan. Ringkasnya, buku semacam itu masih sulit diakses.

Sembari membaca The Heritage of Arung Palakka, saya terus berpikir bagaimana menerjemahkannya—dan segera melakukannya begitu halaman terakhir selesai saya baca.

Kami pun mendirikan penerbitan sendiri untuk menghidangkan terjemahan The Heritage of Arung Palakka kepada khalayak. Pilihan ini kami pikir akan lebih memudahkan. Menurut kami waktu itu, mungkin sulit mencari penerbit yang tertarik menerbitkan terjemahan buku kajian ‘lokal’–dan kami belum kenal atau dikenal oleh siapa-siapa.

Saat itu, bersama beberapa kawan, saya tengah menerjemahkan The Bugis, karya ilmuan Perancis, Christian Pelras (kelak terbit sebagai Manusia Bugis) dan masih kesulitan mencari penerbit.

Setahun kemudian ketika buku itu sudah nyaris rampung saya terjemahkan, saya berjumpa Leonard Andaya pada satu seminar di Makassar. Mendengar apa yang kami lakukan, ia segera memberi izin sebagai penulis. Ia pun berjanji menghubungi KITLV di Leiden untuk mengurus izin terjemahan dari penerbit versi Bahasa Inggris bukunya itu.

Dengan uang patungan kami akhirnya bisa mencetak Warisan Arung Palakka.

Buku ini merupakan langkah pertama yang terbukti sangat penting bagi kami untuk mewujudkan cita-cita demokratisasi pengetahuan. Cetakan pertama buku itu, kini dalam Bahasa Indonesia, segera habis terjual dalam waktu yang tidak kami bayangkan sebelumnya. Warisan Arung Palakka segera tersebar luas dan Penerbit Ininnawa mulai dikenal sebagai penerbit kajian ilmiah tentang Sulawesi Selatan.

Tetapi Leonard Andaya melakukan sesuatu yang di luar dugaan kami. Ternyata, kabar terbitnya Warisan Arung Palakka segera tersebar di kalangan ilmuan yang mengkaji Sulawesi Selatan. Dan Leonard Andaya adalah orang yang bertanggungjawab menyebarkan kabar baik tersebut. Tak lama kemudian beberapa ilmuan lain mulai menghubungi kami untuk menerjemahkan karya mereka.

Dengan demikian, kerja demokratisasi pengetahuan kini juga berlangsung di dua aras lain: penulis dan pembaca. Sementara para penulis menyebarkan kabar tentang terjemahan buku mereka, para pembaca menyebarkan kabar tentang buku terjemahan yang sudah tersedia bagi mereka. Kini semakin banyak pihak bergabung mewujudkan demokrasi pengetahuan yang kami cita-citakan: bekerja untuk menciptakan akses pengetahuan yang lebih murah dan mudah bagi semua.

Perkembangan di dua aras ini pun tidak berhenti pada buku-buku. Di kalangan para penulis, mereka bukan hanya menitipkan buku untuk kami terjemahkan, mereka juga mengirimkan kami karya-karya ilmiah yang terbit di jurnal-jurnal ilmiah internasional.

Sementara itu, di kalangan pembaca segera berlangsung dialog dengan buku-buku terjemahan yang sudah terbit. Mereka tidak hanya membaca, tetapi menjadikannya rujukan dan memberi tanggapan, baik dalam bentuk tertulis maupun lisan. Mereka melakukan reproduksi pengetahuan dari buku-buku terjemahan tersebut.

Kita bisa melihat dialog semacam ini dalam beraneka bentuk, tertulis maupun lisan. Secara tertulis, kita bisa membacanya dalam tulisan ilmiah (skripsi, tesis, disertasi, esei ilmiah), ilmiah populer (artikel di media massa), dan karya-karya sastra. Secara lisan, kita bisa mendengarnya dalam ceramah-ceramah ilmiah dan forum lainnya.

Bahkan buku-buku itu menjadi rujukan dalam sejumlah dokumenter dan gerakan advokasi.

Perkembangan lain yang menggembirakan kami adalah penerbit lain juga mulai tertarik melakukan hal serupa, menerjemahkan karya ilmiah tentang Sulawesi Selatan. Ini menggembirakan buat kami, tentu saja. Kami tidak sendiri lagi.

Sangat banyak orang kini bisa mengakses pengetahuan yang sebelumnya adalah barang langka. Generasi baru yang tertarik membaca Sulawesi Selatan kini dapat menikmati kajian-kajian ilmiah tentang daerah ini tanpa harus bergantung pada kebaikan hati segilintir orang beruntung. Sangat banyak misteri kini telah terungkap dan itu menggerakkan reproduksi dan dialog pengetahuan.

Tindakan nyata juga sudah dan mungkin masih akan terjadi karena pengetahuan baru yang dibawa oleh karya-karya itu. Sekalipun, tentu saja, khalayak pembaca lebih bisa bercerita tentang dampaknya.

Sementara semua itu berlangsung, kerja demokratisasi pengetahuan—menerbitkan terjemahan karya ilmiah—masih terus kami lanjutkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s