Mari Berdiri, Tepuk Tangan untuk ‘Turah’

Di Kampung Taring, latar film Turah, rumah-rumah berdinding kayu, lusuh dan setengah berantakan. Tak ada lantai semen. Perabot rumah serba terbatas. Di sana tak ada jajaran seleb klimis serupa manekin, jenis orang yang sering kita lihat di teve. Sebagai gantinya kita berjumpa orang-orang miskin di kampung pesisir: lelaki, perempuan, manula sampai anak-anak. Tak ada logat Melayu-Betawi khas Jakarta—kita harus membaca teks terjemahan bila tak paham bahasa setempat.

Continue reading

O, Noir, Fabel, Horor

Sehabis membaca ‘O’ karya Eka Kurniawan, saya terlempar ke satu siang yang jauh ketika ibu guru menuntun kami berjalan masuk gedung bioskop. Hari itu kami akan menonton film tentang seorang anak yang saban hari disiksa ayahnya sendiri sampai mati. Sebuah kisah nyata. Nama anak itu akan tertinggal di kepala saya sampai bertahun-tahun kemudian, Arie Hanggara.

Continue reading

Satu Pagi di Sebuah Ruang Baca

Begitu melewati pintu masuk gedung, kau akan melihat televisi berlayar tipis tertempel di dinding kanan. Sembari mengibas dingin musim semi dari jaket, kau bisa melihat keseharian dunia tropis di sana. Pedangang kaki lima dengan celana pendek, kaos dan sendal menjajakan baso atau rokok, beragam jenis angkot lalu lalang di pasar atau terminal–real time dari Surabaya atau Maluku. Continue reading

Dalam Kurungan Masa Silam: Tokoh dan Konteks ‘puisi-puisi yang lahir dari foto Jaime albridge’

ORANG Makassar, tulis William Cummings, seolah bisa berjalan mundur ke masa depan. Gambaran ini ia buat dengan menimbang pemakaian dua kata yang sekaligus memuat konsep waktu dan ruang: riboko dan riolo. Kata riboko yang berarti ‘di belakang’ dalam dimensi ruang, juga dipakai untuk ‘masa sekarang’ dan ‘masa depan’ pada dimensi waktu. Sedangkan riolo yang berarti ‘di depan’, juga bermakna ‘masa lalu’. Dalam bahasa Bugis juga demikian: riolo bisa diterjemahkan sebagai ‘di depan’ dan ‘masa lalu’, sementara rimonri adalah ‘di belakang’ sekaligus ‘masa depan’. Continue reading

Tentang Sebuah Peribahasa Lama

Metafor hidup dalam keseharian kita, tulis George Lakoff dan Mark Johnson dalam Methaphors We Live By. Ia ada dalam tutur dan tindakan kita. Sistem konseptual yang mengarahkan cara berpikir kita juga menyetir tindakan-tindakan kita, yang sering tidak kita sadari. ‘Aturan-aturan’ itu bersifat metaforik. Contoh, konsep ‘kehidupan’ di masyarakat kita kerap tampil lewat metafor ‘perjalanan’. Ini dapat kita lihat, misalnya, dalam peribahasa “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

Continue reading