Melewati Gerimis Pagi

Pagi yang gerimis ini mengingatkan saya pada pagi-pagi yang gelap pada musim gugur di negara-negara empat musim yang pernah saya singgahi.

Lampu-lampu jalanan dan kendaraan yang menyala sepanjang hari, cuaca dingin yang seolah tak akan berakhir, menjadi racikan yang teramat menggoda untuk tetap tinggal di bawah selimut, mungkin sambil menonton atau menikmati coklat panas.

Tapi mengendarai sepeda atau berjalan di tengah cuaca dingin membuat saya merasa sungguh berdaya. Setelah berhasil keluar dari selimut, membuka baju, lalu mengguyur tubuh dengan air, setelah mengenakan pakaian dengan tubuh gemetaran, setelah membuka pintu dan segera disergap hawa dingin, ada perasaan bangga yang menyeruak, atau mungkin perasaan lega karena berhasil meninggalkan kehangatan yang membuat malas–dan seringkali berakhir dengan badan lemas sepanjang hari.

Sebagai orang yang tak terbiasa dengan cuaca dingin–yang tak jarang mencapai titik beku, saya merasa bisa menaklukkan sesuatu. Tentu, dalam kondisi normal, tindakan fisik melewati hawa dingin bukan sesuatu yang luar biasa. Tetapi perasaan bisa menaklukkan sesuatu bisa sangat berarti bagi seseorang. Perasaan punya daya untuk mencapai tujuan–meskipun itu tujuan kecil seperti tiba di kampus atau tempat kerja–memberi kita pemahaman bahwa kita masih bisa punya tempat yang layak di muka bumi, bahwa kita masih bisa menjalankan fungsi yang sedang kita emban, bahwa kita masih punya sedikit kendali atas kehidupan kita.

Bayangkanlah bila Anda berada di antara orang-orang yang secara paksa digusur dan menemukan diri tak berdaya melawan pemaksaan itu. Bayangkan bila kita tak mampu memberi makan yang layak pada anak-anak kita dan kita tak kunjung menemukan cara yang bisa memenuhi kebutuhan itu. Dikalahkan gerimis pada pagi hari yang gelap akan tampak sangat sepele dibandingkan ketakberdayaan orang-orang yang tergusur dan mereka yang didera kemiskinan.

Sehingga ketakberdayaan, saya bayangkan, punya tingkatan menurut derajat kebutuhan yang perlu dipenuhi seseorang. Seseorang bisa merasa berdaya karena sanggup melawan segala hambatan untuk tiba di tempat kerja, tetapi merasa tak berdaya untuk menghilangkan hambatan yang mengganggu perjalanan itu–semisal kemacetan. Seseorang bisa merasa berdaya karena di ujung kemacetan, di bawah atap yang terlindung dari gerimis, ada pekerjaan yang mungkin bisa memberi hidup yang layak. Tetapi ia bisa merasa tak berdaya menghadapi perlakuan tidak adil, penggusuran, atau korupsi yang menciptakan berderet ketaknyamanan.

Bila situasi ini berlangsung lama dan terjadi dalam banyak hal, sebagian orang mungkin masih bisa menyesuaikan diri dengan ketaknyamanan itu, tetapi perasaan tak berdaya itu sesungguhnya tak pernah hilang. Mungkin sebagian orang bisa melupakannya, tetapi seringkali hal itu tak berlangsung lama. Dari waktu ke waktu, kita diingatkan oleh kenyataan bahwa sebagian orang sama sekali tidak merasakan ketaknyamanan yang kita rasakan, dan perasaan tak berdaya itu akan bangkit lagi.

Bila perasaan tak berdaya itu tak menemukan jalurnya untuk disuarakan dengan baik–sehingga sulit menemukan solusi, dan seseorang atau sekelompok orang berhasil menciptakan wahana penampungan keluh kesah untuk itu, orang-orang yang tak berdaya akan berama-ramai mendatangi wahana itu. Sebab merasa berdaya, berfungsi, didengar atau diterima sangat penting bagi diri seseorang.

Bila cukup banyak orang yang merasa tak berdaya—apalagi karena menghadapi masalah-masalah serupa, dan mereka yang mengendalikan wahana keluh kesah itu memutuskan melakukan sesuatu  untuk kepentingan sempit mereka, persoalannya tidak lagi sesederhana melewati gerimis pada pagi hari yang gelap. Ketakberdayaan massal yang dapat dikendalikan oleh kepentingan sempit, sebagian dari kita sudah tahu akibatnya.

Advertisements

Berikan Saja Uang itu Langsung Kepada Mereka

Mendekati titik akhir eseinya, Joseph Hanlon yang berbicara sebagai ilmuan kajian pembangunan dari negara maju, menembakkan sebuah pertanyaan provokatif:

“.. kita telah menciptakan sebuah ‘industri bantuan’ yang utuh, lengkap dengan berderet lembaga yang menetapkan prasyarat bagi perubahan perilaku, kementerian-kementerian pembangunan yang memilih negara-negara yang bersedia bertindak sesuai dengan apa yang kita pikir harus mereka lakukan, para pekerja lapangan berbiaya besar yang memberitahu petani apa yang mereka harus lakukan, dan seterusnya. Kita membuat sekolah-sekolah yang mengajarkan kajian pembangunan, dan menerbitkan jurnal seperti Development and Change. Tapi seberapa besar pembangunan yang telah dicapai industri itu?”

Continue reading

A Portrait of State as a Schoolteacher: Discourse on Indonesian Indigenous Community in a Children Book

International documents call them ‘Indigenous People’, ‘Indigenous community’, or ‘Indigenous society’, in itself can be seen as a practice of exclusion (Mills 2004: 57), where powerful parties exclude or include other groups of people, with manufactured reasoning or characterization of the subjected groups. The Indonesian government applied this type of exclusion for their ‘indigenous community’ by using a straightforward term: masyarakat terasing, ‘isolated communities’. It is then followed by the construction of a set of characterization for these groups that underpin policies to impose official ideas, institutions, and lifestyles on them. Continue reading

Bagaimana Pemilihan Langsung Menyelamatkan Kita

Amerika Serikat 2008. Dalam kecepatan menakjubkan rumah-rumah disita bank sebab para pemilik tak sanggup bayar cicilan. Namun bank-bank penyita urung menjual kembali rumah-rumah itu. Kalaupun mereka sanggup menjual sekira satu juta rumah sitaan itu, utang mereka kepada bank-bank lain yang memberi pinjaman tak mungkin terbayar. Akibatnya, bank-bank pemberi pinjaman itu juga tidak sanggup lagi membayar utang mereka sendiri kepada bank lain lagi yang mengutangi mereka, yang juga mengutang pada bank lain, begitu seterusnya. Berhadapan dengan sergapan kredit macet, berjatuhanlah harga saham bank-bank raksasa peminjam kredit investasi, sebagian langsung gulung tikar. Semua bank yang masih hidup akhirnya berhenti memberi utang kepada siapa pun. Masing-masing menutup rapat-rapat pintu simpanan, semua khawatir terkena sergapan kredit macet. Utangan, dalam bahasa kerennya, likuiditas, tidak tersedia di pasar. Terjadilah ‘credit crunch’.[1]

Continue reading

Masalah dengan Modal Sosial: Empat Kritik Harriss terhadap Putnam

depoliticizing-development_sampul

Duduk di satu sesi simposium tahun 2000 silam, untuk kali pertama saya mendengar konsep ‘modal sosial’. Simposium Internasional Antropologi itu berlangsung di Makassar. Seorang peneliti menyajikan bukti-bukti tentang kuatnya modal sosial di wilayah penelitiannya, satu tempat di Sumatera Utara. Saya cukup takjub waktu itu, ternyata orang bisa membedah tiga elemen pembentuk ‘modal sosial’ untuk mencari tahu dan mengukur tingkat kemampuan bekerjasama sebuah kelompok masyarakat. Dengan memenuhi tiga prasyarat itu, satu kelompok masyarakat bisa maju. Betapa mudahnya, demikian menurut pikiran sederhana saya waktu itu. Seusai sesi itu, saya mencari makalah sang peneliti dan menggandakannya. Tak lama setelahnya, berulang kali saya melihat (kadang membaca) esei atau potongan buku tentang modal sosial. Continue reading

“Toys to Hand Cream … Liquor to Blue Jeans”: A Brief Note on Rural Consumerism

Consumerism is now well spread into the rural, brought by increasingly fast-flowing goods, people, and ideas, “with luxury goods being far more prevalent.” (in Lynch 2005:134). Economically, it is a significant market for capitalist industries, and culturally, it has the power to reshape shared preferences and identities of rural people. Parallel with it the reemergence of recent debate on the disappearance of peasantry (Bryceson et. al. 2000). It is, therefore, extremely difficult to discount consumerism as a potential transformation driver of the rural communities. Continue reading

A Little walk to A Quiet Junction: Transformative Learning, Critical Pedagogy and Social Movement

A busy early summer 2007 in the institute, backpacked ISS students going to Germany, celebrated Anti G8 protest. These are not isolated phenomena. They can be connected in a simple logic: instead of hiding in the library nervously stabilo-ing printed readings, like myself, some ISS students left the busy academic schedule to participate in the protest. Now, suppose one asks a simple question, did they go out of a pure learning process to a pure social movement activism? Any educated person in the Institute, almost intuitively, would reply in rather astonished tone, “Of course, No”.

Continue reading