A Portrait of State as a Schoolteacher: Discourse of Indonesian Indigenous Community in a Children Book

International documents call them ‘Indigenous People’, ‘Indigenous community’, or ‘Indigenous society’, in itself a practice of exclusion (Mills 2004: 57), where powerful parties exclude or include other groups of people, with manufactured reasoning or characterization of the subjected groups. The Indonesian government applied this type of exclusion for their ‘indigenous community’ by using a straightforward term: masyarakat terasing, ‘isolated communities’. They follow this with constructing a set of characterization for these groups to underpin policies to impose ideas, institutions, and lifestyles to these groups. Continue reading

Bagaimana Pemilihan Langsung Menyelamatkan Kita

Amerika Serikat 2008. Dalam kecepatan menakjubkan rumah-rumah disita bank sebab para pemilik tak sanggup bayar cicilan. Namun bank-bank penyita urung menjual kembali rumah-rumah itu. Kalaupun mereka sanggup menjual sekira satu juta rumah sitaan itu, utang mereka kepada bank-bank lain yang memberi pinjaman tak mungkin terbayar. Akibatnya, bank-bank pemberi pinjaman itu juga tidak sanggup lagi membayar utang mereka sendiri kepada bank lain lagi yang mengutangi mereka, yang juga mengutang pada bank lain, begitu seterusnya. Berhadapan dengan sergapan kredit macet, berjatuhanlah harga saham bank-bank raksasa peminjam kredit investasi, sebagian langsung gulung tikar. Semua bank yang masih hidup akhirnya berhenti memberi utang kepada siapa pun. Masing-masing menutup rapat-rapat pintu simpanan, semua khawatir terkena sergapan kredit macet. Utangan, dalam bahasa kerennya, likuiditas, tidak tersedia di pasar. Terjadilah ‘credit crunch’.[1]

Continue reading

Masalah dengan Modal Sosial: Empat Kritik Harriss terhadap Putnam

depoliticizing-development_sampul

Duduk di satu sesi simposium tahun 2000 silam, untuk kali pertama saya mendengar konsep ‘modal sosial’. Simposium Internasional Antropologi itu berlangsung di Makassar. Seorang peneliti menyajikan bukti-bukti tentang kuatnya modal sosial di wilayah penelitiannya, satu tempat di Sumatera Utara. Saya cukup takjub waktu itu, ternyata orang bisa membedah tiga elemen pembentuk ‘modal sosial’ untuk mencari tahu dan mengukur tingkat kemampuan bekerjasama sebuah kelompok masyarakat. Dengan memenuhi tiga prasyarat itu, satu kelompok masyarakat bisa maju. Betapa mudahnya, demikian menurut pikiran sederhana saya waktu itu. Seusai sesi itu, saya mencari makalah sang peneliti dan menggandakannya. Tak lama setelahnya, berulang kali saya melihat (kadang membaca) esei atau potongan buku tentang modal sosial. Continue reading

“Toys to Hand Cream … Liquor to Blue Jeans”: A Brief Note on Rural Consumerism

Consumerism is now well spread into the rural, brought by increasingly fast-flowing goods, people, and ideas, “with luxury goods being far more prevalent.” (in Lynch 2005:134). Economically, it is a significant market for capitalist industries, and culturally, it has the power to reshape shared preferences and identities of rural people. Parallel with it the reemergence of recent debate on the disappearance of peasantry (Bryceson et. al. 2000). It is, therefore, extremely difficult to discount consumerism as a potential transformation driver of the rural communities. Continue reading

A Little walk to A Quiet Junction: Transformative Learning, Critical Pedagogy and Social Movement

A busy early summer 2007 in the institute, backpacked ISS students going to Germany, celebrated Anti G8 protest. These are not isolated phenomena. They can be connected in a simple logic: instead of hiding in the library nervously stabilo-ing printed readings, like myself, some ISS students left the busy academic schedule to participate in the protest. Now, suppose one asks a simple question, did they go out of a pure learning process to a pure social movement activism? Any educated person in the Institute, almost intuitively, would reply in rather astonished tone, “Of course, No”.

Continue reading

Tindakan Kolektif dan Struktur Sosial*

BUKU kecil ini akan secara khusus mengulas tindakan-tindakan kolektif dalam mengelola sumberdaya alam dan fasilitas bersama. Analisis akan diarahkan untuk mengurai struktur sosial yang melatari kerja-kerja kolektif tersebut, dengan menimbang bahwa kerja kolektif selalu dipengaruhi oleh bangunan sosial yang dominan di satu masyarakat. Dengan kata lain, kami tidak menganggap setiap kerja kolektif selalu membawa kebaikan bagi seluruh anggota masyarakat. Warga bisa saja berbondong-bondong melakukan kerja bakti setiap minggu, tindakan kolektif bisa berjalan, meskipun struktur sosial menekan mereka untuk melakukannya. Continue reading